Liburan ke Desa Batulayang rasanya belum lengkap kalau hanya menikmati pegunungan, trekking ke air terjun, atau bermalam di tengah udara sejuk Cisarua.
Ada satu sisi lain yang menarik untuk dijelajahi, yaitu kuliner khas Batulayang dan berbagai produk pangan yang dikembangkan masyarakat setempat. Batulayang memang belum memiliki daftar makanan tradisional sepanjang kota-kota wisata kuliner besar.
Bahkan, penelitian tentang pengembangan desa ini masih mencatat perlunya peningkatan variasi makanan, kemasan, dan dokumentasi kuliner lokal. Namun justru di situlah daya tariknya: wisata gastronomi Batulayang sedang berkembang.
Salah satu produk yang paling jelas identitas lokalnya adalah Wedang Layang, minuman rempah yang awalnya diberikan sebagai minuman penyambutan tamu.
Selain itu, terdapat dokumentasi mengenai Soto Batulayang, dodol hutan, minuman herbal, hingga inovasi baru seperti Nusa Layang dan Renas Layang.
Apa saja yang menarik untuk dicicipi? Berikut beberapa kuliner Batulayang yang layak masuk daftar.
1. Wedang Layang, Minuman Khas yang Paling Ikonik
Kalau harus memilih satu produk yang paling identik dengan wisata kuliner Batulayang, Wedang Layang menjadi kandidat terkuat.
Produk ini awalnya dibuat sebagai welcome drink bagi tamu yang datang ke Desa Wisata Batulayang. Seiring berkembangnya wisata, Wedang Layang kemudian dikemas dan dipasarkan sehingga pengunjung dapat membawanya pulang sebagai produk khas desa.
Wedang Layang dibuat dari kombinasi berbagai rempah, antara lain jahe, serai, kayu manis, cengkih, akar alang-alang, lemon, gula, sedikit garam, dan bahan pelengkap lainnya. Perpaduan tersebut sangat cocok dengan suasana Batulayang yang berada di kawasan sejuk Puncak.
Bayangkan selesai trekking ketika udara mulai dingin, lalu menikmati minuman rempah hangat. Sederhana, tetapi pengalaman seperti inilah yang membuat sebuah kuliner terasa terhubung dengan tempat asalnya.
Wedang Layang juga pernah tersedia dalam bentuk kemasan bubuk maupun botol sehingga bisa dijadikan oleh-oleh. Harga tentunya dapat berubah, jadi informasi lama mengenai harga sebaiknya tidak dijadikan patokan saat berkunjung sekarang.
2. Soto Batulayang, Kuliner Lokal yang Layak Dikenal
Selain minuman rempah, sebuah penelitian mengenai strategi pengembangan Desa Wisata Batulayang yang terbit pada 2025 menyebut Soto Batulayang sebagai salah satu kuliner lokal desa.
Sayangnya, dokumentasi publik mengenai resep, sejarah, maupun karakter khusus soto ini masih terbatas. Karena itu, tidak tepat jika langsung mengklaim Soto Batulayang menggunakan bahan atau bumbu tertentu tanpa sumber lokal yang jelas.
Justru keterbatasan dokumentasi tersebut menjadi peluang.
Jika resep Soto Batulayang memang diwariskan atau dikembangkan oleh masyarakat lokal, cerita mengenai bahan, cara memasak, siapa yang pertama membuatnya, hingga bagaimana hidangan tersebut biasa disajikan dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata gastronomi.
Penelitian yang sama bahkan menyarankan agar kuliner Batulayang dikembangkan melalui storytelling tentang asal-usul makanan serta pengalaman memasak bersama wisatawan.
Jadi, jika menemukan Soto Batulayang ketika berkunjung, jangan hanya mencicipinya. Bertanyalah kepada warga atau pengelola mengenai cerita di balik hidangan tersebut.
3. Dodol Hutan, Nama Unik dari Batulayang
Nama dodol hutan langsung mengundang rasa penasaran.
Produk ini juga disebut bersama Soto Batulayang dan minuman herbal sebagai kuliner lokal yang memiliki potensi menjadi daya tarik Desa Wisata Batulayang. Namun, sebagaimana soto lokalnya, dokumentasi terbuka mengenai komposisi serta proses pembuatan dodol hutan masih relatif minim.
Kondisi tersebut penting untuk diperhatikan dalam artikel wisata. Daripada menebak-nebak bahan pembuatnya berdasarkan namanya, lebih baik melihat dodol hutan sebagai salah satu produk lokal yang masih membutuhkan dokumentasi lebih mendalam.
Justru nama yang unik seperti ini sangat potensial untuk branding.
Kalau dilengkapi kemasan menarik, informasi bahan, cerita asal-usul, serta identitas Desa Batulayang, dodol hutan berpeluang dikembangkan sebagai oleh-oleh yang berbeda dari produk makanan yang mudah ditemukan di kawasan wisata lainnya.
Studi mengenai Batulayang juga menilai perbaikan kemasan sebagai salah satu hal penting untuk meningkatkan daya saing UMKM kuliner desa.
4. Minuman Herbal Khas untuk Menemani Udara Cisarua
Selain Wedang Layang, penelitian 2025 turut menyebut minuman herbal khas sebagai bagian dari kuliner lokal Batulayang.
Keberadaan minuman berbahan tanaman dan rempah terasa cukup masuk akal dalam identitas kuliner desa ini. Wedang Layang sendiri menunjukkan bagaimana rempah dapat dikemas menjadi produk khas yang mempunyai hubungan kuat dengan suasana pegunungan.
Pengembangan minuman lokal juga cocok dengan karakter wisata Batulayang.
Wisatawan biasanya menghabiskan waktu untuk trekking, camping, jelajah desa, atau aktivitas luar ruang. Minuman hangat setelah kegiatan alam dapat menjadi pengalaman gastronomi sederhana yang mudah diingat.
Dalam konteks bisnis lokal, minuman juga relatif fleksibel. Produk dapat disajikan langsung kepada tamu, menjadi bagian dari paket makan, atau dikembangkan dalam kemasan untuk dibawa pulang.
5. Nusa Layang, Nugget Semangka yang Tidak Biasa
Kuliner Batulayang tidak hanya berbicara tentang resep tradisional. Masyarakat dan Pokdarwis juga mulai mendapatkan pelatihan untuk menciptakan produk baru dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar desa.
Pada 2024, sebanyak 27 anggota Pokdarwis mengikuti pelatihan pengolahan sayur dan buah. Salah satu hasil inovasinya diberi nama Nusa Layang, singkatan dari Nugget Samangka Layang. Produk ini dibuat dengan mengolah semangka menjadi nugget sebagai alternatif pangan berbasis bahan lokal.
Namanya jelas dibuat untuk membawa identitas Batulayang.
Konsep tersebut menarik karena semangka biasanya langsung dimakan sebagai buah segar atau dibuat minuman. Mengolahnya menjadi nugget memberikan pengalaman yang tidak biasa sekaligus memperlihatkan bahwa kuliner desa dapat berkembang melalui kreativitas.
Namun, ada catatan penting bagi wisatawan. Nusa Layang didokumentasikan sebagai produk hasil inovasi dan pelatihan pada 2024. Jadi, jangan menganggap makanan ini selalu tersedia setiap hari di semua tempat makan Batulayang. Sebaiknya tanyakan kepada pengelola desa wisata jika ingin mencobanya.
6. Renas Layang, Rendang Nanas dengan Sentuhan Lokal
Produk lain dari pelatihan tersebut bahkan lebih membuat penasaran: Renas Layang.
Nama Renas merupakan kependekan dari rendang nanas, sedangkan “Layang” merujuk pada Desa Wisata Batulayang. Dalam pengembangannya, nanas diolah menjadi hidangan bergaya rendang untuk menciptakan alternatif pangan yang menggunakan potensi buah lokal.
Ide ini memperlihatkan arah baru kuliner Batulayang.
Alih-alih hanya menjual buah dalam keadaan segar, masyarakat bisa memberikan nilai tambah melalui pengolahan. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari gagasan gastronomi berkelanjutan yang diperkenalkan dalam program pelatihan.
Renas Layang juga mempunyai keunggulan dari sisi cerita.
Nama yang unik membuat wisatawan mudah mengingatnya. Jika suatu saat diproduksi secara konsisten dan dikemas dengan baik, produk seperti ini memiliki peluang menjadi salah satu identitas kuliner modern Batulayang.
Sama seperti Nusa Layang, ketersediaannya perlu dikonfirmasi terlebih dahulu karena dokumentasi sumber menunjukkan produk ini berasal dari kegiatan inovasi kuliner, bukan bukti bahwa produk selalu tersedia secara komersial.
7. Hehejoan ti Layang dan Embun ti Layang
Masih dari program inovasi kuliner 2024, muncul dua nama minuman yang cukup menarik, yaitu Hehejoan ti Layang dan Embun ti Layang.
Hehejoan ti Layang dibuat dari kombinasi bayam dan nanas. Sementara Embun ti Layang memadukan semangka dengan jahe sehingga menghadirkan unsur segar dari buah sekaligus sensasi hangat dari rempah.
Kedua produk menunjukkan bagaimana sayur dan buah dapat masuk ke dalam pengalaman wisata kuliner.
Daripada hanya menjual komoditas pertanian, bahan lokal bisa diubah menjadi produk dengan nama, cerita, dan karakter tersendiri. Pendekatan seperti ini juga dapat membantu menghubungkan sektor pertanian Batulayang dengan pariwisatanya.
Menariknya, program pengembangan tersebut memang diarahkan agar keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat berlanjut menjadi penyajian makanan dan minuman bagi wisatawan.
Sekali lagi, pengunjung sebaiknya mengecek ketersediaannya terlebih dahulu sebelum datang khusus untuk mencicipi produk-produk inovasi tersebut.
Kuliner sebagai Bagian dari Pengalaman Desa Wisata
Kuliner mempunyai posisi penting dalam sebuah desa wisata. Wisatawan mungkin datang pertama kali karena air terjun atau pemandangan, tetapi makanan sering menjadi bagian dari pengalaman yang mereka ingat dan ceritakan kembali.
Pemerintah Kabupaten Bogor juga menilai desa wisata, UMKM, dan kuliner sebagai bagian yang saling berkaitan dalam pengembangan ekonomi pariwisata daerah.
Batulayang mempunyai modal yang menarik untuk mengembangkan konsep tersebut.
Ada produk yang sudah memiliki identitas kuat seperti Wedang Layang, ada kuliner lokal yang perlu lebih banyak didokumentasikan seperti Soto Batulayang dan dodol hutan, serta ada kelompok produk inovatif seperti Nusa Layang dan Renas Layang.
Jika semuanya dikembangkan dengan kualitas yang konsisten, cerita produk yang jelas, serta kemasan yang menarik, wisata kuliner dapat menjadi pelengkap kuat bagi alam dan budaya Batulayang.
Bahkan pengalaman seperti melihat proses pembuatan Wedang Layang, memasak bersama warga, atau mencoba olahan hasil pertanian dapat menjadi atraksi wisata tersendiri.
Kuliner khas Batulayang menunjukkan bahwa desa wisata ini memiliki lebih banyak cerita daripada sekadar pegunungan dan air terjun.
Wedang Layang menjadi produk lokal yang paling jelas terdokumentasi dan telah dikembangkan dari minuman penyambutan menjadi produk yang bisa dibawa pulang. Selain itu, penelitian juga mencatat Soto Batulayang, dodol hutan, dan minuman herbal sebagai potensi gastronomi lokal.
Inovasi seperti Nusa Layang, Renas Layang, Hehejoan ti Layang, dan Embun ti Layang memperlihatkan arah baru pemanfaatan buah serta sayuran menjadi kuliner kreatif.
Jadi, saat berkunjung ke Desa Batulayang, jangan hanya menyiapkan kamera dan sepatu trekking. Sisakan ruang untuk mencicipi produk lokalnya juga.
Tanyakan kepada warga atau pengelola apa yang sedang tersedia-siapa tahu Anda menemukan rasa khas Batulayang yang belum banyak dikenal wisatawan.
FAQ
1. Apa kuliner khas Batulayang yang paling terkenal?
Wedang Layang merupakan salah satu produk yang paling jelas terdokumentasi sebagai khas Desa Batulayang. Awalnya disajikan sebagai minuman penyambutan sebelum kemudian dikemas dan dipasarkan.
2. Wedang Layang terbuat dari apa?
Wedang Layang menggunakan berbagai bahan rempah seperti jahe, serai, kayu manis, cengkih, akar alang-alang, lemon, gula, dan bahan pelengkap lainnya.
3. Apakah ada makanan khas selain Wedang Layang?
Ada dokumentasi akademik yang menyebut Soto Batulayang dan dodol hutan sebagai kuliner lokal. Namun, detail resep dan sejarah keduanya masih belum banyak terdokumentasi dalam sumber publik.
4. Apa itu Nusa Layang dan Renas Layang?
Nusa Layang merupakan inovasi nugget berbahan semangka, sedangkan Renas Layang adalah olahan rendang nanas. Keduanya dikembangkan dalam program pelatihan kuliner Pokdarwis Batulayang pada 2024.
5. Apakah semua kuliner tersebut selalu tersedia?
Belum tentu. Beberapa merupakan produk inovasi yang terdokumentasi melalui kegiatan pelatihan. Untuk mencicipi menu tertentu, sebaiknya konfirmasi kepada pengelola atau pelaku UMKM lokal sebelum berkunjung.
